Tidurlah dengan tenang Umi.......
Lebaran kali ini merupakan lebaran yang ga akan pernah bisa aku lupain....
Sudah sejak bulan agustus Umi terbaring sakit... diagnosa awal dokter mengatakan Umi terkena radang paru-paru.. setelah 2 hari dirumah sakit ternyata Umi dinyatakan terkena demam berdarah.... dan setelah 6 hari Alahamdulillah kondisi Umi membaik dan bisa pulang kerumah.
Hari minggunya aku, Umi, ilma dan Suamiku pergi ke pasar untuk sekedar berjalan-jalan. Umi bilang bosen diem dirumah aja. Sesampainya di Pasar, Umi memilih beberapa potong baju...dan meminta ku untuk membelikannya. 'Tumben...' pikirku dalam hati. Selama ini Umiku berprofesi sebagai penajhit baju dan penjual baju jadi, kok tumben beli baju diluar ya...? dan minta aku yang membayarkannya. Alhamdulillah ... pikirku dalam hati, karena biasanya Umi paling tidak suka kalo aku yang membelikannya. 'mending uangnya ditabung....' biasanya Umi selalu bilang begitu jika aku menawarkannya membelikan sesuatu. setelah membeli baju untuk Umi, beberapa potong rok untukku, dan sebuah boneka untuk ilma...kami berpindah tempat ke bagian penjualan sayur dan ikan. Umi memilih beberapa jenis ikan laut, makanan ringan, sayur, dan beberapa buah piring kecil. OIA... Ilma itu adalah putri dari sepupuku yang sudah Umi anggap sebagai cucunya sendiri... Ilma begitu dekat kepada Umi... sehingga Umi selalu membawa Ilma kemanapun Umi pergi...
Beberapa hari setelah kami berjalan-jalan Umiku kembali jatuh sakit.... dan sekarang..Umi selalu merasakan sakit kepala setiap menjelang jam 2 pagi... Sehingga setiap menjelang pagi kami semua terbangun untuk bergantian memijit bagian kepala Umi. Dan sekarang umi tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Umi hanya bisa terbaring, bahkan untuk dudukpun Umi tidak sanggup, melihat kondisi Umi yang mulai semakin memburuk... kami pun membawa Umi kembali kerumah sakit... setelah melewati berbagai tes... Dokter menyimpulkan Umi terkena 'Vertigo' namun dokter lain menganalisa sakit dikepala Umi diakibatkan penyebaran kanker Rahim yang pernah menyerang Umiku 5 tahun silam. Padahal Rahim Umi sudah diangkat 5 tahun yang lalu..... 'kok penyebarannya masih ada ?' tanyaku pada Dokter...'Ini bisa saja terjadi' hanya jawaban itu yang aku dapat dari dokter... dan Dokterpun menyarankan Umi untuk dibawa pulang saja , karena mereka tidak memliki obatnya.........
Dengan berat hati kamipun kembali membawa Umi pulang kerumah.... Keadaan Umi semakin memburuk.... dan yang lebih membuatku sedih..aku harus pergi keluar kota untuk satu bulan, karena di tempat kerjaku yang baru ini mengharuskan calon pegawainya untuk magang sebelum pangangkatan... Dengan berurai air mata aku harus berangkat ke kota karawang... dan aku bisa pulang ke bandung setiap jum'at malam.... setiap senin shubuh aku harus kembali ke karawang..
sepulang dari karawang kulihat kondisi Umi semakain memburuk... Umi susah sekali untuk makan...badannya sudah menjadi kurus kering.... karena khawatir Umi semakin lemah.. kamipun kembali membawa Umi kerumah sakit untuk ketiga kalinya... Kali ini Umi di infus dan makan melalui selang dari hidung...
Melihat kondisi Umi seperti itu... air mataku tak dapat ku tahan... terpaksa aku harus pura2 masuk kamar mandi agar adikku tidak mengetahui betapa aku menyimpan sedih yang mendalam....
Dan kabar lainpun datang, membuat hatiku semakin hancur... Ternyata setelah magang aku harus menerima takdirku yang ditempatkan di kantor cabang denpasar... Itu berati aku harus pergi mengiggalkan suamiku... adiku..ayahku... dan terutama Umi ku yang sedang sakit...
Namun setelah aku minta kelonggaran waktu akhirnya keberangkatanku ke denpasar ditunda sampai Umiku pulang dari rumah sakit... Alhamdulillah...
Saat itu baru saja memasuki bulan Ramadhan....
Kembali ibuku menjalani serangakaian test... dan kembali dokter mengatakan bahwa itu adalah penyebaran dari kanker yang pernah ada dirahim Umiku... Dan kembali pula.. dokter menyarankan Umi untuk pulang karena mereka tidak memiliki obatnya....
Tangisku pun pecah...dalam sujud dipenghujung malam... memohon Umiku hanya kepadaNYa Ya Mujiib Ya Muqiit ...
keberangkatanku ke Denpasar tidak dapat ditunda lagi... Akhirnya aku pun berangkat ke denpasar bersama suamiku degnan berat hati dan membawa sejuta gundah gulana dalam lubuk hatiku..... Kerjaku tidak pernah bisa maksimal... ragaku memang berada di denpasar, tapi hati, pikiran dan cintaku kutinggalakan di Bandung.
Sore itu aku dengan suamiku sedang berbuka puasa di salah satu fast food di daerah renon... aku mendapat telpon dari ayahku yang mengatakan bahwa Umi sekarang sudah bisa duduk... tangis harupun kembali pecah... andai aku tidak berada di pertokoan...ingin rasanya aku bersujud syukur... Syukur Alhamdulillah... Ya Mujiib.....
Tak lama berselang .. suamiku harus kembali ke bandung, karena dia hanya mengambil cuti beberapa hari saja....kehidupan pun dimulai..aku harus menjalaninya sendiri...
menjelang Idul Fitri... aku mendapat jatah libur lebih awal dibanding yang lain.. karena di kantorku mayoritas beragama Hindu dan yang muslim hanya 3 orang termasuk aku dan Kepala cabang. Dengan senang hati... aku pulang ke kota kelahiranku. sesampainya di Jakarta aku sudah dijemput suamiku... Sabtu malam aku sudah kembali dirumah...
Betapa kagetnya aku mendapati ibuku terbaring lemah di ruang tengah didepan TV... ayahku bilang Umi bosen di kamar... Langsung kucium lembut kedua tangannya yang sudah begitu kurus... kudekap tubuh kurusnya... kukecup keningnya dengan segenap cintaku... Tubuhnya begitu kurus...matanya terlihat sayu... salah satu matanya tidak dapat lagi berfungsi maksimal...
Kehidupan dirumah ku menjelang lebaran tidak seperti di rumah2 yang lain... kami bertiga...aku adikku dan suamiku bergantian menjaga Umi... karena semalaman Umi tidak tidur...
Lebaran Hari pertama aku merayakan di rumah mertuaku... setelah sungkem ke Mertuaku dan bersalam dengan kakak2 dari suamiku...aku pun kembali ke rumah... Sungkem kepada ayahku ...dan Umiku.... tangiskupun pecah.... karena saat ini Umi sudah tidak dapat bergerak lagi... hanya suaranya terkadang terdengar... meminta minum..atau ingin membuang air kecil...
Lebaran hari kedua...Umi hanya sesekali berbicara... Umi terlihat lebih tenang dan lebih banyak diam... Pagi2 sekali...ketika aku mengaji di sampingnya Umi mengatakan bahwa ada wanita cantik disamping kasurnya...yang sedang berdiri dan menunggunya...Umi bertanya padaku 'Umi pegi jangan?"...dengan berurai air meta aku melarangnya pergi...'Tapi dia nunggu Umi pergi...kalo Umi pergi...teteh harus ridho ya...' Umiku kembali dengan terbata-bata... dengan tangis tertahan akupun mengiyakannya...Rupanya itu adalah perbincanganku terakhir dengan Umiku... Sejak itu Umi hanya diam saja... terlihat seperti orang yang tidur...begitu tenang....
Lebaran hari ketiga... kami bertiga mulai bergantian mengaji di samping Umi.... tidak sedetikpun kami tinggalkan Umi...
Menjelang pukul 8 malam.. Semua keluarga kami dari Jakarta dan Sumedang sudah berkumpul.... Tepat pukul 21.30...dituntun takbir yang terus menerus dibisikan ke telinga Umi......Umi pun pergi...menghadap Sang pemilik kehidupan... Innalillahi Wa Inalillah Rojiun...
Duniaku...runtuh....malaikut kehidupanku pergi...
Kini hanya doa yang dapat kupajatkan...hanya doa yang kuharapkan dapat menemani tidur panjang Umi.....
Tidurlah dengan tenang Umi...akan kukirim doa dalam stiap helaan nafasku... kelak Insya Allah kita akan bertemu di Syurga Nya Amin..
Ya Mujiib.. titip salam rindu dan baktiku untuk Umiku... Ya Rahiim sayangi Umiku...seperti dia menyayangiku sewaktu aku kecil... Amin...
Friday, December 16, 2005
Wednesday, August 17, 2005
Sunday, August 07, 2005
Rp 3000
Senin ini sama seperti senin-senin sebelumnya. Setelah selesai mencuci pakaian yang lumayan bertumpuk, aku pun bergeas untuk mandi dan berpakaian. Sebelum berangkat aku sempatkan menyiapkan bekal untuk makan siangku. Setelah semuanya siap, aku keluarkan sebuah dompet kecil tempat aku selalu menyimpan uang receh. Setelah kuhitung jumlahnya ada Rp 12.000 dalam bentuk uang seribuan semua. "Wah harus mengambil uang di ATM nih, receh semua uangnya" ucapku pada suamiku. "Ya udah nanti aja pulangnya, untuk ongkos sekarang masih cukup kan?" tanya nya. "Cukup kok.. Insya Allah " jawabku sambil memisahkan 3000 rupiah untuk ongkos pergi. Rp 1500 untuk angkot sampai pertigaan cimareme, dan Rp 1500 untuk ojek dari pertigaan sampai depan kantorku. setelah berpamitan ke kedua orang tua ku kami pun langsung berangkat, tidak lupa dengan mengucapkan salam terlebih dahulu. "Assalamu'alaikum..."
Sepanjang perjalanan aku dan suamiku lebih banyak diam, sambil menikmati udara dingin pagi ini dari atas motor yang melaju sedikit kencang, karena jalanan masih terlihat lenggang. Memasuki jalan utama, barulah jalan terlihat ramai. Angkot, Bus, Truk, Motor, bahkan sepeda semua ambil bagian untuk memadatkan jalan. Se-jam sudah aku diperjalanan, sampai juga aku di cimahi, syukurku.
setelah melewati alun-alun jalanan kembali macet. Di sela-sela kemacetan dilampu merah aku melihat sosok Feri.Dia adalah teman kerjaku, kami satu ruangan. Dia juga teman kuliah ku dulu. Begitu ada kesempatan dan posisi kami yang hampir sejajar, aku pun menegurnya "Feri.." panggilku. "Hei.. bareng neh" jawabnya. "A aku bareng feri aja ya, jadi a bisa langsung ke kantor..." pintaku pada suamiku. "Oh gitu, ya udah terserah, bilang dulu sama feri nya" jawab suamiku. "Fer, aku nebeng kamu aja ya.." kataku pada Feri "Ayo .." jawab Feri kemudian. Namun lampu kemudia menyala hijau "Didepan aja Fer" teriakku pada Feri."Ok " jawab feri kemudian. Setelah beberapa meter melewati perempatan, motorpun menepi. Kulepaskan Helm dan kemudian memberikan pada suamiku. Tak lama kemudian kulihat Feri yang juga menepi. Setelah berpamitan pada suamiku dan mencium tangannya, aku pun menggunakan helm yang Feri berikan."Nitip ya Fer..."kata suamiku pada Feri yang juga sudah saling kenal sejak di kampus dahulu. "Muhun.. hati-hati kang" Jawab Feri lengkap dengan logat sundanya yang kental. Feri adalah adik kelas kami dahulu, jadi dia mamanggil suamiku dengan sebutan "Kang" yang merupakan sebutan untuk seorang kakaK laki-laki dalam bahasa sunda. Dan perjalananpun dilanjutkan.
Tepat pukul delapan aku sudah berada diruangan kerjaku. Langsung saja aku nyalakan perangkat komputerku. Membuka email yang lumayan banyak, karena hari ini hari senin, jadi Email dari hari sabtu belum aku buka. Tiba- tiba kau teringat janjiku pada ibuku untuk menelponnya. Ya, sekarang aku haru menelpon sebuah perusahaan yang beru saja menerima ku sebagai karyawannya. Ya , Alhamdulillah aku telah diterima disebuah perusahaan BUMN , dan hari ini adalah jadwal test kesehatan. Dan aku teriangat HP yang akan aku isi ulang pulsanya. Langsung saja aku mengambil selembar voucher Rp 25.000. Koin! ya aku butuh koin untuk menggosoknya. Dan aku teringat akan uang Rp 3000 yang sudah aku pisahkan untuk ongkos tadi. Uang itu tadi tidak terpakai untuk ongkos berarti masih ada di dompet koin ku. Kuraih tas kecilku yang berada dilaci meja kerjaku. Setelah beberapa lama kucari, aku tidak menemukan dompet koin itu didalam tas. Ku ulangi untuk mencari nya, sampai tiga kali pencarian. tapi hasilnya tetap sama, Tidak Ada!. Kemana dompet itu ya.. pikirku dalam hati. kucari sebuah koin untuk menggosok selembar pulsa yang sedari tadi ku genggam. Yap, aku menemukan sebuah koin Rp 100. Langsung saja aku gosok voucher tersebut. Setelah beres mengisi pulsa, aku langsung menelpon perusahaan tersebut untuk memastikan jadwal test kesehatan. Setelah selesai aku langsung menelpon kerumah untuk mengabari, dan orang tuaku dapat mengambil form test kesehatan untukku. Aku tidak bisa mengambil sendiri karena saat ini aku masih bekerja diperusahaan swasta, dan baru akan mengundurkan diri sebulan kemudian. Kemudian tidak lupa aku minta tolong pada Umiku untuk melihat dikamarku, apakah ada dompet koinku tertinggal. "Nggak ada Teh" jawabku Umiku setelah mencari dikamarku. "Diatas kasur atau di meja rias nggak ada Mi" tanyaku memastikan. "Iya nggak ada, dah Umi cari keliling kamar "Jawab Umiku meyakinkan. "Ya udah deh Mi mungkin bukan rejeki Devy " Jawabku sedikit lemas. Dan kemudian mematikan Handphone setelah sebelumnya mengucapkan salam.
Sejenak aku terdiam menatap motinor komputerku. Ku ingat-ingat kembali, apa saja yang aku lakukan sebelum berangkat kerja. Dari Mulai mencuci sampai waktu aku memisahkan uang Rp 3000 untuk ongkos pergiku. Yap, aku ingat betul, uang itu aku simpan dalam dompet koinku dan kemudian kuletakkan dibagian belakang tas kecilku. Setelah aku memasukkan dompet koin tersebut, aku memasukkan uang logam 500 rupiah. Kubuka kembali tas kecil ku untuk memastikan apakah uang Rp 500 itu ada. Dan ternyata uang itu ada!. berarti aku benar2 memasukkkan dompet koin itu. Ah... sudahlah pikirku kemudian. Mungkin dompet itu bukan rejeki lagi. Sekali lagi Allah mengingatkan aku tentang masalah rejeki yang bukan urusan ku, Alhamdulilah Ya Rahmaan.
Setelah selesai dengan shalat dzuhurku, sujud panjang pun menjadi pengaduan dan rasa syukurku yang hanyalah milik-Nya, hanyalah untuk-Nya... karena Dia lah yang paling berhak aku sembah. Subhanallah... Ya Rabb...Kau mengaturnya begitu indah dan penuh keajaiban. Andai kata aku tidak bertemu Feri di lampu merah itu, maka aku harus naek angkot sampai cimareme. Dan ketika aku akan turun dan membayar ongkos angkot, kemudian aku tahu dompet koin ku tidak ada. Apa yang ku lakukan? Kemudian aku harus berjalan kaki dari pertigaan sampai ke depan kantorku. Karena aku tidak punya ongkos buat bayar naik ojeg.Padahal jaraknya kurang lebih 1 kilo meter. Pertemuan dangan Feri di lampu merah yang dihiasi oleh kemacetan itu bukanlah suatu kebetulan. Karena aku tidak setuju dengan adanya "kebetulan" dalam hidup ini. Semua sudah ada yang mengaturnya tanpa celah tanpa cacat begitu sempurna. Namun terkadang kita mangaggap nya itu hal biasa dalam hidup. Tidak akan jatuh sehelai daun kering dari ranting rapuh tanpa izin-Nya. Tidak ada kedip mata yang lolos dari Izin-Nya. Ya semua ini terjadi atas izin-Nya. Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin......Sekali lagi syukur ku yang terhingga kupanjatkan kehadirat-Mu ya Rahmaan.
Nb : Nanti pulang aku bayar ongkos angkot pake apa ya??? :((
Wednesday, August 03, 2005
Mungkin belum ... Semoga belum ...
Pagi ini biru...
Sedikit Mendung, Agak kelabu...
Sepertinya aku bingung
Dan sedikit ragu
Pada biru
Yang membuat mendung dan kelabu
Rasa nyeri sedari tadi memburu
Sesekali membuat ku "mengaduh"
Apa yang terjadi ?
Mungkinkah Kau belum menghendaki...?
Mungkin aku harus lebih bersabar...
Juga suamiku...
Pada Permohonan kami...
Atas kendak Mu...
Atau mungkin...
Ya Waduud masih memberi kesempatan
Pada kami berdua..
Untuk saling Memahami dan mengerti...
Untuk kami memperbaiki diri... agar lebih berarti...
Agar kelak saatnya Nanti....
Ketika dia hadir...kami telah siap lahir batin...
Amin....
Maafkan Kami Ya Rahhiim...Atas segala ketidakmampuan kami...
Semoga kelak Kau mempercayai kami... untuk sebuah anugrah suci...
Yang kan menyejukan hati... Dan menentramkan Kalbu...
Kan kami bawa dia meniti jalan-Mu sepanjang hidup...
Pagi ini biru...
Sedikit Mendung, Agak kelabu...
Sepertinya aku bingung
Dan sedikit ragu
Pada biru
Yang membuat mendung dan kelabu
Rasa nyeri sedari tadi memburu
Sesekali membuat ku "mengaduh"
Apa yang terjadi ?
Mungkinkah Kau belum menghendaki...?
Mungkin aku harus lebih bersabar...
Juga suamiku...
Pada Permohonan kami...
Atas kendak Mu...
Atau mungkin...
Ya Waduud masih memberi kesempatan
Pada kami berdua..
Untuk saling Memahami dan mengerti...
Untuk kami memperbaiki diri... agar lebih berarti...
Agar kelak saatnya Nanti....
Ketika dia hadir...kami telah siap lahir batin...
Amin....
Maafkan Kami Ya Rahhiim...Atas segala ketidakmampuan kami...
Semoga kelak Kau mempercayai kami... untuk sebuah anugrah suci...
Yang kan menyejukan hati... Dan menentramkan Kalbu...
Kan kami bawa dia meniti jalan-Mu sepanjang hidup...
Friday, July 29, 2005
24 Jam milik-Nya...
Belum lagi Adzan subuh, tapi imam ku sudah berpakaian rapi lengkap dengan sarung tenun dan peci rajut abu-abu nya. "Bangun De... tahajud yuk.." dengan sebuah kecupan hangat mendarat dikeningku. Berat sekali kubuka kedua bola mataku, dan senyum itu sudah mengembang di bibir mungil imam besarku. Setelah berwudhu, kami pun shalat Tahajud dilanjutkan Witir dan ditutup dengan doa syahdu Imam besarku yang selalu membuat air mata ini meleleh menurunidua pipi montokku. Sembari menunggu Adzan shubuh, kamipun tilawah. Sesaat sebelum adzan shubuh berkumandang, imam besarku berangkat ke mesjid yang tidak begitu jauh dari rumah orang tuaku. Setelah mengambil air wudhu, aku dan umiku shalat shubuh berjamaah. selesai Shalat aku pun bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Kantor tempat ku bekerja, jaraknya sangat jauh dengan rumah orang tuaku. Jadi, agar tidak terlambat aku harus berangkat sebelum sang matahari menampakkan diri.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam setengah aku pun tiba di kantorku. Pagi ini aku mempunyai dua tugas dari manajerku. langsung saja aku nyalakan komputer setiaku. Ruang kerjaku berukuran kurang lebih 8 x 5 meter. Didalamnya terdapat 7 buah meja kantor berukuran besar! Aku adalah wanita tercantik di dept IT, soalnya aku satu-satunya wanita di dept ini(pantesan...). Semua rekan kerjaku adalah kaum adam. Jadi, maaf saja kalo di ruangan IT ini tidak ada acara gosip dan tidak ada juga sesi kecantikan apalagi ruang pamer untuk perabotan baru. Kalopun suatu ketika kami ngobrol, yang dibahas tidak jauh seputar teknologi Informasi terbaru, otomotif,dan tips dan trik mendapatkan wanita! Ups!... Maklum tiga dari lima rekan kerjaku belum menikah.
Waktu terus bergulir, semakin beranjak siang. Komunikasi ku dengan Imam besar tidak terhenti. Chating! ya aku dan imam besarku selalu online. Beruntung nya kami, karena perusahaan tempat aku dan Suamiku memberikan fasilitas internet full akses selama 24 jam. Mungkin juga karena aku dan suamiku sama-sama berada di Dept IT yang tidak lepas dari internet. "Wa'alaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh bidadariku yang tertambat di lubuk hati ini" begitulah biasanya imam besarku menjawab salam yang kukirim lewat jendela chating. Fasilitas Chat ini kita manfaat kan untuk mengefektifkan komunikasi kami. Jika tidak ada fasilitas chat ini, mungkin aku dan suamiku akan banyak menghabiskan pulsa untuk saling menghubungi. Dan melalui fasilitas chat ini justru kami lebih banyak berkomunikasi. Karena ketika kami dirumah, biasanya waktu yang tersisa kami manfaatkan untuk beristirahat. S etelah rehat sebentar untuk makan siang dan shalat dzuhur aku pun kembali ke depan monitorku. Biasanya setelah shalat aku sempatkan untuk tilawah, walaupun hanya satu atau dua ayat.
Setelah 7 jam berada di gedung megah yang menghasilkan ribuan kantong infus, aku pun mematikankomputerku. Agar dia bisa beristirahat, bersiap-siap untuk kugunakan besok. Kurang lebih pukul empat aku pun bersiap-siap untuk pulang. Dengan menaiki kendaraan jemputan kantor akupun melalui jalan tol yang terlihat sedikit macet, mungkin karena hari ini hari libur anak sekolah. setelah disambung lagi dengan dua kali naik angkutan kota barulah aku sampai kembali di rumah orang tuaku. Waktu di ruang tengah telah menunjukan pukul setengah 7 malam.Buru-buru kebersihkan tubuhku yang cukup penat. Perjalanan jauh cukup membuat baju ku sedikit lengket dengan kulitku. Guyuran air dingin dapat kembali menyegarkan kembali tubuh lelahku. Setelah shalat Maghrib, yang mepet ke shalat Isya akupun meneruskan tilawah. Setelah shalat Isya, aku pun menuju meja makan untuk mengisi lambungku yang mulai bernyanyi riang dengan irama penuh sukacita. Umiku hanya tersenyum setiap mendengar dentuman dari lambung riangku "Ga makan berapa hari Teh?"Begitu beliau biasanya bertanya sambil tersenyum.Umiku memanggil ku dengan sebutan "Teteh"panggilan kakak perempuan untuk orang sunda. tak lama kemudian satu piring penuh nasi ditambah lauk pauk dan sambal tentunya habis pindah ke dalam lambungku.
Kulirik jam dinding yang berada diatas TV di ruang tengah, ternyata baru saja jam setengah delapan."Kuliah sampe jam brp A? kl dah beres lsg plg ya.. Ada yg kangen nih dirumah. Hati2 di jln ya Aa"dan SEND kukirim melalui Siemens C55 ku. Tak lama kemudian "Ok Say! btw,Umi masak apa neh? Perut A juga kangen neh sama masakan Umi :)" . Uhhh aku pun memajukan bibirku 3 senti didepan mulut "Kenapa kamu teh?, kok manyun2 begitu?" tanya Umiku heran melihat ku yang bergerutu"Ini Mi, A Raisa.. Dena bilang kangen... EH dia jawabnya Asal aja" jawabku masih dengan bibir full manyun"Emang dia jawab apa sih? "tanya Umiku lagi dengan sedikit penasaran"Dia bilang perutnya kangen sama masakan Umi..." Jawabku lagi sembari berjalan menuju tempat Umiku duduk dan memperlihatkan SMS dari suamiku pada Umiku"Ya bener donk... masa dia kangen sama masakan kamu? kamu kan ga pernah masak Teh.." dan tawa kecil pun mengembang di bibir Umiku. Sepertinya dia bahagia sekali telah membuatku tambah manyun.Sambil menunggu suamiku pulang, aku dan Umiku menuju halaman depan untuk menyiram tanaman.Umiku memiliki begitu banyak tanaman dari berbagai jenis. Semua terawat sempurna di tangan Umiku.
Kurang lebih jam 10 malam Imam besarku pulang. Aku yang sudah mulai terkantuk-kantuk di kamar, langsung menyimpan buku yang sedang kubaca. Membuka pintu, mengambil semua barang bawaannya dan meletakkanya dikamar. Aku pun menuju dapur untuk menyiapkan makan malam suamiku. Kulihat Umikusudah berada didapur "Udah tidur aja... yang Raisa kangenin kan masakan Umi bukan masakan mu "Canda umiku sambil meletak sayur yang baru di hangatkan kedalam mangkok. Aku pun hanya tersenyum, sambil membawa sayur hanget menuju ruang makan dan memberi bonus sebuah kecupan dipipi umiku. Setelah Suamiku beres dengan makan malamnya, kamipun sedikit berbincang di ruang tengah. Kurang lebih jam 11 Umiku masuk kekamar untuk tidur. Minggu -minggu ini Umiku tidur sendiri karena Papah ku sedang berada diluar kota. Tak lama kemudian aku dan suamiku pun masuk kekamar untuk beristirahat. Sedikit berbincang obrolan ringan di atas kasurdan tak lama kemudian kamipun terlelap dalam indahnya mimpi.
Usai sudah tugasku hari ini....sebait doa kupanjatkan doa sebelum tidur"Ya Rabb...Dzat yang tidak pernah tidur... peliharah aku dan keluarga ku dalam tidur kami jauhkanlah kami dari mimpi buruk... bangunkan kami dengan cintamu agar besok selalu menjadi lebih baik dari hari ini, amin"
Wednesday, July 20, 2005
FuR My Hubby...
Jikalau cintaku hanya milik -Nya...
Izinkan ku bagi sebagian sayangku..
Hanya untukmu Imam besar ku.....
Kita satukan langkah...
Satu langkah menuju Ridha-Nya
Satu langkah mencapai hidayah-Nya
Satu langkah mendapatkan cinta-Nya
Sang Maha Mencintai... Ya Rohiim... Ya Lathiif...
Kita satukan Hati...
Untuk selalu mencintai-Nya
Agar selalu berada di jalan- Nya
Agar pergi menjauh dari segala yang di yang dilarang-Nya
Agar Cinta kita selalu di jaga oleh Cinta-Nya... Ya Muhaimin...
Semoga saja....Dia selalu melimpahkan Cintanya kepada kita..
Juga Petunjuk -Nya selalu menyinari perjalanan bahtera kita...
Dan membiarkan relung hati kita hanyalah milik-Nya...
Agar kelak kita dapat menemui -Nya.... Ya Dzul Jalaali Wal Ikroom... amin...
(Special... buat Aa ... "You Are Great Husband... I'am so lucky become Ur Wife..." Alhamdulillah Ya Wahhaab...)
Jikalau cintaku hanya milik -Nya...
Izinkan ku bagi sebagian sayangku..
Hanya untukmu Imam besar ku.....
Kita satukan langkah...
Satu langkah menuju Ridha-Nya
Satu langkah mencapai hidayah-Nya
Satu langkah mendapatkan cinta-Nya
Sang Maha Mencintai... Ya Rohiim... Ya Lathiif...
Kita satukan Hati...
Untuk selalu mencintai-Nya
Agar selalu berada di jalan- Nya
Agar pergi menjauh dari segala yang di yang dilarang-Nya
Agar Cinta kita selalu di jaga oleh Cinta-Nya... Ya Muhaimin...
Semoga saja....Dia selalu melimpahkan Cintanya kepada kita..
Juga Petunjuk -Nya selalu menyinari perjalanan bahtera kita...
Dan membiarkan relung hati kita hanyalah milik-Nya...
Agar kelak kita dapat menemui -Nya.... Ya Dzul Jalaali Wal Ikroom... amin...
(Special... buat Aa ... "You Are Great Husband... I'am so lucky become Ur Wife..." Alhamdulillah Ya Wahhaab...)
Tuesday, July 19, 2005
Ya Rahmaan... Ya Rahiim
Biarkanlah layar monitor, CPU, KeyBoard, dan Mouse menjadi saksiku kelak...
Menjadi saksi kerja kerasku.. mencari duniaku...
Menjadi saksi bahwa dunia hanyalah bagian kecil dari akhiratku...
Menjadi saksi ..
Bahwa ku mengingat-Mu sepanjang hariku...
Bahwa ku begitu merindu kasih-Mu...
Bahwa hanya Kau yang mengisi relung hatiku
Bahwa ridha-Mu satu-satunya tujuan ku...
Bahwa kasih sayang Mu yang selalu ku cari....
Bantu aku kelak di akhirat wahai
"Komputer kerjaku..."
Bantu agar aku dapat menempati...
Syurga -Nya...
Amin....
Biarkanlah layar monitor, CPU, KeyBoard, dan Mouse menjadi saksiku kelak...
Menjadi saksi kerja kerasku.. mencari duniaku...
Menjadi saksi bahwa dunia hanyalah bagian kecil dari akhiratku...
Menjadi saksi ..
Bahwa ku mengingat-Mu sepanjang hariku...
Bahwa ku begitu merindu kasih-Mu...
Bahwa hanya Kau yang mengisi relung hatiku
Bahwa ridha-Mu satu-satunya tujuan ku...
Bahwa kasih sayang Mu yang selalu ku cari....
Bantu aku kelak di akhirat wahai
"Komputer kerjaku..."
Bantu agar aku dapat menempati...
Syurga -Nya...
Amin....
Subscribe to:
Posts (Atom)