Sunday, August 07, 2005

Rp 3000

Senin ini sama seperti senin-senin sebelumnya. Setelah selesai mencuci pakaian yang lumayan bertumpuk, aku pun bergeas untuk mandi dan berpakaian. Sebelum berangkat aku sempatkan menyiapkan bekal untuk makan siangku. Setelah semuanya siap, aku keluarkan sebuah dompet kecil tempat aku selalu menyimpan uang receh. Setelah kuhitung jumlahnya ada Rp 12.000 dalam bentuk uang seribuan semua. "Wah harus mengambil uang di ATM nih, receh semua uangnya" ucapku pada suamiku. "Ya udah nanti aja pulangnya, untuk ongkos sekarang masih cukup kan?" tanya nya. "Cukup kok.. Insya Allah " jawabku sambil memisahkan 3000 rupiah untuk ongkos pergi. Rp 1500 untuk angkot sampai pertigaan cimareme, dan Rp 1500 untuk ojek dari pertigaan sampai depan kantorku. setelah berpamitan ke kedua orang tua ku kami pun langsung berangkat, tidak lupa dengan mengucapkan salam terlebih dahulu. "Assalamu'alaikum..."

Sepanjang perjalanan aku dan suamiku lebih banyak diam, sambil menikmati udara dingin pagi ini dari atas motor yang melaju sedikit kencang, karena jalanan masih terlihat lenggang. Memasuki jalan utama, barulah jalan terlihat ramai. Angkot, Bus, Truk, Motor, bahkan sepeda semua ambil bagian untuk memadatkan jalan. Se-jam sudah aku diperjalanan, sampai juga aku di cimahi, syukurku.

setelah melewati alun-alun jalanan kembali macet. Di sela-sela kemacetan dilampu merah aku melihat sosok Feri.Dia adalah teman kerjaku, kami satu ruangan. Dia juga teman kuliah ku dulu. Begitu ada kesempatan dan posisi kami yang hampir sejajar, aku pun menegurnya "Feri.." panggilku. "Hei.. bareng neh" jawabnya. "A aku bareng feri aja ya, jadi a bisa langsung ke kantor..." pintaku pada suamiku. "Oh gitu, ya udah terserah, bilang dulu sama feri nya" jawab suamiku. "Fer, aku nebeng kamu aja ya.." kataku pada Feri "Ayo .." jawab Feri kemudian. Namun lampu kemudia menyala hijau "Didepan aja Fer" teriakku pada Feri."Ok " jawab feri kemudian. Setelah beberapa meter melewati perempatan, motorpun menepi. Kulepaskan Helm dan kemudian memberikan pada suamiku. Tak lama kemudian kulihat Feri yang juga menepi. Setelah berpamitan pada suamiku dan mencium tangannya, aku pun menggunakan helm yang Feri berikan."Nitip ya Fer..."kata suamiku pada Feri yang juga sudah saling kenal sejak di kampus dahulu. "Muhun.. hati-hati kang" Jawab Feri lengkap dengan logat sundanya yang kental. Feri adalah adik kelas kami dahulu, jadi dia mamanggil suamiku dengan sebutan "Kang" yang merupakan sebutan untuk seorang kakaK laki-laki dalam bahasa sunda. Dan perjalananpun dilanjutkan.

Tepat pukul delapan aku sudah berada diruangan kerjaku. Langsung saja aku nyalakan perangkat komputerku. Membuka email yang lumayan banyak, karena hari ini hari senin, jadi Email dari hari sabtu belum aku buka. Tiba- tiba kau teringat janjiku pada ibuku untuk menelponnya. Ya, sekarang aku haru menelpon sebuah perusahaan yang beru saja menerima ku sebagai karyawannya. Ya , Alhamdulillah aku telah diterima disebuah perusahaan BUMN , dan hari ini adalah jadwal test kesehatan. Dan aku teriangat HP yang akan aku isi ulang pulsanya. Langsung saja aku mengambil selembar voucher Rp 25.000. Koin! ya aku butuh koin untuk menggosoknya. Dan aku teringat akan uang Rp 3000 yang sudah aku pisahkan untuk ongkos tadi. Uang itu tadi tidak terpakai untuk ongkos berarti masih ada di dompet koin ku. Kuraih tas kecilku yang berada dilaci meja kerjaku. Setelah beberapa lama kucari, aku tidak menemukan dompet koin itu didalam tas. Ku ulangi untuk mencari nya, sampai tiga kali pencarian. tapi hasilnya tetap sama, Tidak Ada!. Kemana dompet itu ya.. pikirku dalam hati. kucari sebuah koin untuk menggosok selembar pulsa yang sedari tadi ku genggam. Yap, aku menemukan sebuah koin Rp 100. Langsung saja aku gosok voucher tersebut. Setelah beres mengisi pulsa, aku langsung menelpon perusahaan tersebut untuk memastikan jadwal test kesehatan. Setelah selesai aku langsung menelpon kerumah untuk mengabari, dan orang tuaku dapat mengambil form test kesehatan untukku. Aku tidak bisa mengambil sendiri karena saat ini aku masih bekerja diperusahaan swasta, dan baru akan mengundurkan diri sebulan kemudian. Kemudian tidak lupa aku minta tolong pada Umiku untuk melihat dikamarku, apakah ada dompet koinku tertinggal. "Nggak ada Teh" jawabku Umiku setelah mencari dikamarku. "Diatas kasur atau di meja rias nggak ada Mi" tanyaku memastikan. "Iya nggak ada, dah Umi cari keliling kamar "Jawab Umiku meyakinkan. "Ya udah deh Mi mungkin bukan rejeki Devy " Jawabku sedikit lemas. Dan kemudian mematikan Handphone setelah sebelumnya mengucapkan salam.

Sejenak aku terdiam menatap motinor komputerku. Ku ingat-ingat kembali, apa saja yang aku lakukan sebelum berangkat kerja. Dari Mulai mencuci sampai waktu aku memisahkan uang Rp 3000 untuk ongkos pergiku. Yap, aku ingat betul, uang itu aku simpan dalam dompet koinku dan kemudian kuletakkan dibagian belakang tas kecilku. Setelah aku memasukkan dompet koin tersebut, aku memasukkan uang logam 500 rupiah. Kubuka kembali tas kecil ku untuk memastikan apakah uang Rp 500 itu ada. Dan ternyata uang itu ada!. berarti aku benar2 memasukkkan dompet koin itu. Ah... sudahlah pikirku kemudian. Mungkin dompet itu bukan rejeki lagi. Sekali lagi Allah mengingatkan aku tentang masalah rejeki yang bukan urusan ku, Alhamdulilah Ya Rahmaan.

Setelah selesai dengan shalat dzuhurku, sujud panjang pun menjadi pengaduan dan rasa syukurku yang hanyalah milik-Nya, hanyalah untuk-Nya... karena Dia lah yang paling berhak aku sembah. Subhanallah... Ya Rabb...Kau mengaturnya begitu indah dan penuh keajaiban. Andai kata aku tidak bertemu Feri di lampu merah itu, maka aku harus naek angkot sampai cimareme. Dan ketika aku akan turun dan membayar ongkos angkot, kemudian aku tahu dompet koin ku tidak ada. Apa yang ku lakukan? Kemudian aku harus berjalan kaki dari pertigaan sampai ke depan kantorku. Karena aku tidak punya ongkos buat bayar naik ojeg.Padahal jaraknya kurang lebih 1 kilo meter. Pertemuan dangan Feri di lampu merah yang dihiasi oleh kemacetan itu bukanlah suatu kebetulan. Karena aku tidak setuju dengan adanya "kebetulan" dalam hidup ini. Semua sudah ada yang mengaturnya tanpa celah tanpa cacat begitu sempurna. Namun terkadang kita mangaggap nya itu hal biasa dalam hidup. Tidak akan jatuh sehelai daun kering dari ranting rapuh tanpa izin-Nya. Tidak ada kedip mata yang lolos dari Izin-Nya. Ya semua ini terjadi atas izin-Nya. Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin......Sekali lagi syukur ku yang terhingga kupanjatkan kehadirat-Mu ya Rahmaan.


Nb : Nanti pulang aku bayar ongkos angkot pake apa ya??? :((

0 comments: