Tidurlah dengan tenang Umi.......
Lebaran kali ini merupakan lebaran yang ga akan pernah bisa aku lupain....
Sudah sejak bulan agustus Umi terbaring sakit... diagnosa awal dokter mengatakan Umi terkena radang paru-paru.. setelah 2 hari dirumah sakit ternyata Umi dinyatakan terkena demam berdarah.... dan setelah 6 hari Alahamdulillah kondisi Umi membaik dan bisa pulang kerumah.
Hari minggunya aku, Umi, ilma dan Suamiku pergi ke pasar untuk sekedar berjalan-jalan. Umi bilang bosen diem dirumah aja. Sesampainya di Pasar, Umi memilih beberapa potong baju...dan meminta ku untuk membelikannya. 'Tumben...' pikirku dalam hati. Selama ini Umiku berprofesi sebagai penajhit baju dan penjual baju jadi, kok tumben beli baju diluar ya...? dan minta aku yang membayarkannya. Alhamdulillah ... pikirku dalam hati, karena biasanya Umi paling tidak suka kalo aku yang membelikannya. 'mending uangnya ditabung....' biasanya Umi selalu bilang begitu jika aku menawarkannya membelikan sesuatu. setelah membeli baju untuk Umi, beberapa potong rok untukku, dan sebuah boneka untuk ilma...kami berpindah tempat ke bagian penjualan sayur dan ikan. Umi memilih beberapa jenis ikan laut, makanan ringan, sayur, dan beberapa buah piring kecil. OIA... Ilma itu adalah putri dari sepupuku yang sudah Umi anggap sebagai cucunya sendiri... Ilma begitu dekat kepada Umi... sehingga Umi selalu membawa Ilma kemanapun Umi pergi...
Beberapa hari setelah kami berjalan-jalan Umiku kembali jatuh sakit.... dan sekarang..Umi selalu merasakan sakit kepala setiap menjelang jam 2 pagi... Sehingga setiap menjelang pagi kami semua terbangun untuk bergantian memijit bagian kepala Umi. Dan sekarang umi tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Umi hanya bisa terbaring, bahkan untuk dudukpun Umi tidak sanggup, melihat kondisi Umi yang mulai semakin memburuk... kami pun membawa Umi kembali kerumah sakit... setelah melewati berbagai tes... Dokter menyimpulkan Umi terkena 'Vertigo' namun dokter lain menganalisa sakit dikepala Umi diakibatkan penyebaran kanker Rahim yang pernah menyerang Umiku 5 tahun silam. Padahal Rahim Umi sudah diangkat 5 tahun yang lalu..... 'kok penyebarannya masih ada ?' tanyaku pada Dokter...'Ini bisa saja terjadi' hanya jawaban itu yang aku dapat dari dokter... dan Dokterpun menyarankan Umi untuk dibawa pulang saja , karena mereka tidak memliki obatnya.........
Dengan berat hati kamipun kembali membawa Umi pulang kerumah.... Keadaan Umi semakin memburuk.... dan yang lebih membuatku sedih..aku harus pergi keluar kota untuk satu bulan, karena di tempat kerjaku yang baru ini mengharuskan calon pegawainya untuk magang sebelum pangangkatan... Dengan berurai air mata aku harus berangkat ke kota karawang... dan aku bisa pulang ke bandung setiap jum'at malam.... setiap senin shubuh aku harus kembali ke karawang..
sepulang dari karawang kulihat kondisi Umi semakain memburuk... Umi susah sekali untuk makan...badannya sudah menjadi kurus kering.... karena khawatir Umi semakin lemah.. kamipun kembali membawa Umi kerumah sakit untuk ketiga kalinya... Kali ini Umi di infus dan makan melalui selang dari hidung...
Melihat kondisi Umi seperti itu... air mataku tak dapat ku tahan... terpaksa aku harus pura2 masuk kamar mandi agar adikku tidak mengetahui betapa aku menyimpan sedih yang mendalam....
Dan kabar lainpun datang, membuat hatiku semakin hancur... Ternyata setelah magang aku harus menerima takdirku yang ditempatkan di kantor cabang denpasar... Itu berati aku harus pergi mengiggalkan suamiku... adiku..ayahku... dan terutama Umi ku yang sedang sakit...
Namun setelah aku minta kelonggaran waktu akhirnya keberangkatanku ke denpasar ditunda sampai Umiku pulang dari rumah sakit... Alhamdulillah...
Saat itu baru saja memasuki bulan Ramadhan....
Kembali ibuku menjalani serangakaian test... dan kembali dokter mengatakan bahwa itu adalah penyebaran dari kanker yang pernah ada dirahim Umiku... Dan kembali pula.. dokter menyarankan Umi untuk pulang karena mereka tidak memiliki obatnya....
Tangisku pun pecah...dalam sujud dipenghujung malam... memohon Umiku hanya kepadaNYa Ya Mujiib Ya Muqiit ...
keberangkatanku ke Denpasar tidak dapat ditunda lagi... Akhirnya aku pun berangkat ke denpasar bersama suamiku degnan berat hati dan membawa sejuta gundah gulana dalam lubuk hatiku..... Kerjaku tidak pernah bisa maksimal... ragaku memang berada di denpasar, tapi hati, pikiran dan cintaku kutinggalakan di Bandung.
Sore itu aku dengan suamiku sedang berbuka puasa di salah satu fast food di daerah renon... aku mendapat telpon dari ayahku yang mengatakan bahwa Umi sekarang sudah bisa duduk... tangis harupun kembali pecah... andai aku tidak berada di pertokoan...ingin rasanya aku bersujud syukur... Syukur Alhamdulillah... Ya Mujiib.....
Tak lama berselang .. suamiku harus kembali ke bandung, karena dia hanya mengambil cuti beberapa hari saja....kehidupan pun dimulai..aku harus menjalaninya sendiri...
menjelang Idul Fitri... aku mendapat jatah libur lebih awal dibanding yang lain.. karena di kantorku mayoritas beragama Hindu dan yang muslim hanya 3 orang termasuk aku dan Kepala cabang. Dengan senang hati... aku pulang ke kota kelahiranku. sesampainya di Jakarta aku sudah dijemput suamiku... Sabtu malam aku sudah kembali dirumah...
Betapa kagetnya aku mendapati ibuku terbaring lemah di ruang tengah didepan TV... ayahku bilang Umi bosen di kamar... Langsung kucium lembut kedua tangannya yang sudah begitu kurus... kudekap tubuh kurusnya... kukecup keningnya dengan segenap cintaku... Tubuhnya begitu kurus...matanya terlihat sayu... salah satu matanya tidak dapat lagi berfungsi maksimal...
Kehidupan dirumah ku menjelang lebaran tidak seperti di rumah2 yang lain... kami bertiga...aku adikku dan suamiku bergantian menjaga Umi... karena semalaman Umi tidak tidur...
Lebaran Hari pertama aku merayakan di rumah mertuaku... setelah sungkem ke Mertuaku dan bersalam dengan kakak2 dari suamiku...aku pun kembali ke rumah... Sungkem kepada ayahku ...dan Umiku.... tangiskupun pecah.... karena saat ini Umi sudah tidak dapat bergerak lagi... hanya suaranya terkadang terdengar... meminta minum..atau ingin membuang air kecil...
Lebaran hari kedua...Umi hanya sesekali berbicara... Umi terlihat lebih tenang dan lebih banyak diam... Pagi2 sekali...ketika aku mengaji di sampingnya Umi mengatakan bahwa ada wanita cantik disamping kasurnya...yang sedang berdiri dan menunggunya...Umi bertanya padaku 'Umi pegi jangan?"...dengan berurai air meta aku melarangnya pergi...'Tapi dia nunggu Umi pergi...kalo Umi pergi...teteh harus ridho ya...' Umiku kembali dengan terbata-bata... dengan tangis tertahan akupun mengiyakannya...Rupanya itu adalah perbincanganku terakhir dengan Umiku... Sejak itu Umi hanya diam saja... terlihat seperti orang yang tidur...begitu tenang....
Lebaran hari ketiga... kami bertiga mulai bergantian mengaji di samping Umi.... tidak sedetikpun kami tinggalkan Umi...
Menjelang pukul 8 malam.. Semua keluarga kami dari Jakarta dan Sumedang sudah berkumpul.... Tepat pukul 21.30...dituntun takbir yang terus menerus dibisikan ke telinga Umi......Umi pun pergi...menghadap Sang pemilik kehidupan... Innalillahi Wa Inalillah Rojiun...
Duniaku...runtuh....malaikut kehidupanku pergi...
Kini hanya doa yang dapat kupajatkan...hanya doa yang kuharapkan dapat menemani tidur panjang Umi.....
Tidurlah dengan tenang Umi...akan kukirim doa dalam stiap helaan nafasku... kelak Insya Allah kita akan bertemu di Syurga Nya Amin..
Ya Mujiib.. titip salam rindu dan baktiku untuk Umiku... Ya Rahiim sayangi Umiku...seperti dia menyayangiku sewaktu aku kecil... Amin...
Friday, December 16, 2005
Subscribe to:
Posts (Atom)